Yogyakarta, – Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP dan sederajat tengah berlangsung sejak 6 April hingga 16 April 2026 nanti dan dibagi menjadi 4 gelombang. Salah satunya yang telah selesai melaksanakan TKA pada gelombang 2 adalah SMP Negeri 2 Wates Kulon Progo di tanggal 8 dan 9 April 2026.
Beberapa murid kelas IX mengaku sedikit lega setelah selesai mengerjakan TKA walau masih ada rasa cemas menunggu hasilnya yang direncanakan akan diumumkan pada Mei 2026.
“Kemarin waktu dua hari mengerjakan TKA rasanya deg-degan. Matematika itu banyak soal ceritanya, tapi tidak semua bacaannya itu menjelaskan inti soalnya. Waktu awal-awal mengerjakan soalnya masih mudah, tapi semakin ke belakang semakin susah,” ujar Natasya, murid kelas IX.
Hal senada juga disampaikan oleh Sahda, murid kelas IX, yang mengaku kekurangan waktu dalam mengerjakan soal-soal Matematika. “Dari pengalaman aku sendiri, aku kurang waktu. Dari 30 soal untuk Matematika dengan waktu 75 menit itu kurang banget. Dan bacaannya itu banyak ada yang panjang. Hm… yang agak susah itu karena kita harus bernalar kan, jadi kayaknya itu menguras waktu.”
Berbeda halnya dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Natasya dan Sahda bersyukur bisa mengerjakan soal-soal dengan lancar. “Kalau Bahasa Indonesia, alhamdulillah cukup. Dari 75 menit mengerjakan 30 soal itu aku masih ada sisa 20 menitan,” cerita Natasya.
“Aku juga lumayan ada sisa waktu 15 menitan. Karena alhamdulillah juga aku dapat soal yang lumayan gampang. Ya ada yang susah, ada yang gampang. Menurut aku jadi 50-50 dari gampang sama susah,” tambah Sahda.
Pihak sekolah, Budi Maheni, Kepala SMP Negeri 2 Wates Kulon Progo menyampaikan rasa syukur bahwa TKA telah terlaksana dengan baik, tertib, dan lancar. Pihaknya telah berupaya maksimal dalam mempersiapkan perangkat, sarana, dan prasana termasuk menyewa genset untuk antisipasi mati listrik saat TKA berlangsung, serta mengupayakan perangkat laptop. Sekolahnya berhasil menyediakan total 43 unit yang terdiri dari PC dan laptop, 28 diantaranya merupakan hasil meminjam laptop pribadi para guru. Semua dilakukan pihak sekolah untuk memastikan agar TKA terlaksana dengan baik dan diikuti 128 murid kelas IX SMP Negeri 2 Wates Kulon Progo di sekolahnya sendiri.
Budi menyatakan bahwa TKA merupakan momentum bagi murid untuk menguji kemampuan berpikir tingkat tinggi. Fokus pada literasi membaca dan numerasi di TKA selaras dengan upaya sekolah dalam berpartisipasi pada pemetaan mutu pendidikan nasional sekaligus membekali murid-murid menghadapi tantangan global.
Persiapan TKA di SMP Negeri 2 Wates dilakukan beriringan dengan penguatan materi akademik daerah yaitu Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD). “Kehadiran TKA melengkapi potret kompetensi murid di Yogyakarta. Menurut saya, jika ASPD memberikan kedalaman penguasaan materi pada empat mata pelajaran kunci (Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris), maka TKA mempertajam cara murid bernalar atas materi tersebut. Keduanya membentuk profil lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tajam secara logika,” ujar Budi.
“Tahun lalu ketika kami mendapat informasi bahwa besok (2026) ada TKA, kami sempat bertanya-tanya apakah TKA nanti itu empat mata pelajaran atau tidak? Karena di 2025, murid-murid kelas IX kami sudah mengikuti ASPD di Yogya. Ternyata TKA itu 2 mata pelajaran saja, Matematika dan Bahasa Indonesia. Kemudian TKA ini ternyata terintegrasi dengan Asesmen Nasional (AN) juga, selain itu ada survei karakter, survei lingkungan belajar, dan nantinya itu semua akan menjadi rapor pendidikan sekolah kami,” ungkap Budi.
Budi juga optimis dengan hasil yang nanti dicapai oleh murid-muridnya baik untuk TKA dan ASPD. “Berdasarkan hasil tiga kali _tryout_ yang diselenggarakan oleh provinsi dan kabupaten, alhamdulillah sekolah kami berada peringkat 3 terbaik se-kabupaten Kulon Progo, semoga nanti hasil TKA anak-anak kami hasilnya juga memuaskan, anak-anak bisa lanjut ke sekolah sesuai impian mereka,” imbuhnya penuh harap.
*Peningkatan Kompetensi Guru untuk Masa Depan Murid*
Tidak hanya itu, pihak sekolah juga mengirim guru-gurunya untuk mengikuti Bimbingan Teknik (BimTek) Pelatihan Guru untuk TKA yang diselenggarakan oleh Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (D.I. Yogyakarta). Erma Wahyu Utami, guru matematika SMP Negeri 2 Wates untuk kelas VII, VIII, dan IX mengaku senang ketika mendapatkan kesempatan untuk mengikuti BimTek tersebut.
Tidak hanya BimTek Pelatihan Guru untuk TKA yang diberikan oleh BBGTK, Erma juga pernah mengikuti pelatihan guru untuk pembelajaran mendalam yang diadakan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kulon Progo.
“Menurut saya pribadi, pembelajaran _deep learning_ ini bahkan untuk saya pun sangat menarik, jadi sangat dibutuhkan oleh anak. Ketika saya kecil sebenarnya sering bertanya-tanya kenapa pakai rumus yang ini, bukan yang itu? Tapi melalui pembelajaran mendalam, kita jadi banyak mengupas hal-hal seperti itu,” ujarnya penuh semangat.
Baginya dua pelatihan tersebut saling melengkapi. Ia menyoroti bahwa metode pembelajaran mendalam (deep learning) penting untuk diberikan pada murid-murid di kelas VI dan VII agar para murid mengerti konsep dan konteks dari setiap pelajaran khususnya matematika, sehingga mereka tidak hanya menghapal rumus tanpa mengetahui konteks atau alasan yang mendasarinya.
Lalu ketika murid sudah di kelas IX barulah mereka diberikan materi mengenai TKA, dimana akan diajarkan strategi dalam membaca dan menyelesaikan soal yang menekankan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skills) agar murid tidak sekadar menghafal, tetapi mampu berlogika, dan berpikir kritis. Hal ini akan lebih baik jika para murid sudah mempunyai fondasi matematika yang kuat melalui metode pembelajaran mendalam yang mereka terima di kelas sebelumnya.
Erma menambahkan, “Menurut saya, akan lebih bagus kita bekali konsepnya dulu (pembelajaran mendalam) di kelas VII dan VIII, karena nanti di kelas IX kan mereka harus mampu berpikir tingkat tinggi untuk menghadapi soal-soal TKA sehingga akan lebih cepat prosesnya jika kita bisa mengulas materi tanpa harus dikupas satu-satu secara mendalam ketika mereka dulu di kelas VII dan VIII. Karena jika di kelas VII dan VIII mereka saya paksakan untuk tipe soal yang penyelesaian cepat dikuatirkan anak-anak malah bingung karena belum paham konsepnya.”
*Sinergi ASPD dan TKA: Wujud Otonomi Pendidikan DIY dalam Mengawal Kualitas Barometer Nasional*
Implementasi ASPD di tengah pemberlakuan TKA merupakan wujud nyata diskresi kebijakan Pemerintah DIY dalam merawat status keistimewaan di sektor pendidikan, guna menjaga standar kualitas “Kota Pelajar” yang selama ini menjadi barometer nasional. Alih-alih bersifat tumpang tindih, ASPD hadir sebagai instrumen otonomi daerah yang memperkaya potret kompetensi murid melalui penguasaan materi sains dan bahasa yang komprehensif, sehingga melengkapi nalar literasi-numerasi yang diujikan dalam TKA. Sinergi kedua asesmen ini memastikan bahwa lulusan di DIY tidak hanya memiliki ketajaman logika berpikir, tetapi juga memiliki kedalaman penguasaan subjek akademik yang kokoh sebagai modal saing di jenjang pendidikan selanjutnya.
*Keseruan Digitalisasi Pendidikan*
SMP Negeri 2 Wates Kulon Progo menerima 1 unit Papan Interaktif (Interactive Flat Panel/IFP). Para murid di sekolah tersebut secara bergantian telah merasakan pembelajaran menggunakan Papan Interaktif.
Kirana Alfatikha Sari, murid kelas VIII, menyampaikan bahwa kelas VIII termasuk yang paling sering mendapatkan kesempatan untuk menggunakan Papan Interaktif, ”Jujur kalau kelas VIII ini sudah lumayan banyak begitu. Jadi kayak ada pelajaran prakarya, bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Informatika. Sampai mungkin saya lupa berapa kali menggunakan IPF begitu.”
Sementara Keyfas Adella Puspa, kelas VII, mengaku baru dua kali menggunakan IFP untuk pelajaran Bahasa Jawa. Lalu Liana Ayu Fitriani, murid kelas IX, juga baru dua kali menggunakan IFP untuk pelajaran Bahasa Indonesia.
Mereka bertiga sepakat bahwa dengan menggunakan IFP pembelajaran terasa lebih seru, menyenangkan, sehingga pelajaran lebih mudah diterima dan meninggalkan kesan mendalam. Mereka juga berharap agar jumlah IFP di sekolah mereka bisa diperbanyak agar semakin banyak murid yang bisa lebih sering merasakan pembelajaran dengan IFP.(Eko)










